A man who writes everything he want.

Wednesday, 10 October 2018


Tahun ini saya menghadiri lagi salah satu festival musik terbesar di Indonesia. Iya, apalagi kalau bukan Synchronize Festival. Cukup menyenangkan bisa menghadiri acara sebesar Synchronize Festival. Ada banyak musisi/band "langka" yang bisa saya tonton di sana. Jadi, memang wajib sepertinya menghadiri festival ini setiap tahunnya.

Saya datang di hari kedua sekitar pukul setengah 6 sore. Saya sedikit terlambat untuk menyaksikan .Feast yang memang menjadi band utama yang ingin saya saksikan penampilannya. Saya hanya mendapati dua lagu terakhir, "Kelelawar" dan "Peradaban". Tidak apa, yang penting saya berhasil nonton.

Usai break Maghrib, saya memutuskan untuk menyaksikan Down For Life. Belum selesai Down For Life bermain, saya pergi ke stage lain untuk menyaksikan band rock legendaris tanah air, Godbless. Kemarin itu adalah kali kedua saya menyaksikan langsung penampilan Achmad Albar bersama konco-konconya di atas panggung. Cukup senang karena masih bisa menyaksikan band setua Godbless meski tidak terlalu hafal dengan lagu-lagunya.

Setelah Godbless selesai menghibur, saya pindah ke stage lain untuk menyaksikan NDX AKA. Saya pikir, kapan lagi bisa menyaksikan mereka di Jakarta? Mereka ini cukup menghibur dan membuat pinggul bergoyang. Keren sekali.

Berjalan sedikit ke stage lain sembari mengantri beli minum, saya menyaksikan penampilan dari Goodnight Electric. Lumayan juga, jadi tidak bosan ketika mengantri waktu itu. Setelah itu saya melanjutkan petualangan untuk menyaksikan band indie pop asal Jogja, Grrrl Gang. Meskipun merasa gerah dan sesak, tapi saya sangat menikmati penampilan Grrrl Gang. Meskipun (lagi) tidak terlihat wajah-wajah para personilnya, tapi bukan masalah. Yang penting sudah mencicipi live mereka.

Semakin malam, semakin seru. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menyaksikan band oktan tinggi, Seringai. Meskipun sudah sering menonton mereka, tapi mereka baru saja mengeluarkan album. Jadi seperti ada perasaan harus ikut berpartisipasi dalam program party Seringai.

Rhoma Irama & Soneta awalnya menjadi penampil terakhir yang ingin saya tonton. Tapi setelah lelah bergoyang dengan tembang-tembangnya yang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk berpindah stage dan menyaksikan Diskoria Selekta sebagai penampil terakhir yang saya saksikan hari itu.

Synchronize Festival tidak pernah mengecewakan meski baru dua kali saya menghadiri festival besar ini. Semoga berlanjut terus dengan penampil yang semakin beragam lagi.

Thursday, 4 October 2018


Akhir-akhir ini saya sedang asyik memutar album kedua .Feast yang berjudul Beberapa Orang Memaafkan. Sebuah mini album yang berisikan enam buah lagu di dalamnya. Tiga di antaranya; "Peradaban", "Berita Kehilangan", dan "Kami Belum Tentu" dirilis berturut-turut selama tiga bulan dan sisanya menyusul dirilis secara bersamaan.

Saya suka dengan lirik-lirik di album ini karena semuanya berbahasa Indonesia. Jadi saya tidak perlu repot-repot men-translate tiap kata atau kalimat untuk bisa menerka-nerka, "kira-kira lagu ini tentang apa, sih?"

Lagu pertama yang keluar adalah "Peradaban". Lagu ini merupakan lagu favorit saya di album ini. Di awal lagu, .Feast seakan mengajak pendengarnya untuk menyebarkan lagu ini. Sebuah ajakan yang menarik untuk memulai perjalanan mengarungi sebuah peradaban. Oh ya, di lagu ini .Feast meminjam potongan lirik milik Banda Neira dari lagu "Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti".

Lanjut ke lagu kedua yang dirilis .Feast adalah "Berita Kehilangan". Di lagu ini, .Feast berkolaborasi dengan Rayssa Dynta. Lagu tentang kematian seorang anak dan sosok ibu yang berusaha mengikhlaskan. Lagu ini mengingatkan saya dengan banyak hal. Dari orang-orang yang dihilangkan beberapa tahun lalu dan masih patut dipertanyakan siapa 'dalang'-nya, juga orang-orang yang harus kehilangan nyawa akibat rivalitas suporter sepak bola. Di lagu ini, .Feast kembali meminjam potongan lirik dari musisi lain, yakni "Taifun" milik Barasuara.

"Kami Belum Tentu" terdengar seperti penolakan sekelompok orang untuk melupakan sejarah dan pertanyaan mengenai "siapa pemimpin yang layak dan mampu menjadi wakil rakyat yang benar". Apalagi ya? Sepertinya cuma itu.


Kalau melihat dari judulnya, "Padi Milik Rakyat" bercerita tentang petani. Tapi setelah didengarkan lebih jauh lagi lagunya, sepertinya tidak hanya itu. Seperti menyindir para koruptor dan para pemilik pabrik atau apapun itu, yang mengambil paksa lahan petani. Hal ini mengingatkan saya dengan kasus penganiayaan Salim Kancil tahun 2015 lalu di Lumajang.

Pada "Apa Kata Bapak" .Feast berkolaborasi dengan Sir Dandy. Sir Dandy seperti berpidato mengenai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dan yang terakhir adalah "Minggir!" yang mengusir para penguasa dari balik layar kaca, yang hanya menebar dusta demi membela diri dan apapun itu.

Sekiranya, itulah yang saya tangkap dari mini album ini. Tulisan ini belum tentu benar adanya. Mungkin bisa jadi salah. Jadi jangan ditelan mentah-mentah. Kalau saya benar, berarti album ini memang harus disebarluaskan lebih jauh lagi supaya ada pihak-pihak yang tersindir atau minimal mengingatkannya pada suatu hal.

Selamat dan sukses.

Monday, 13 August 2018

Jadi bulan Februari 2018 kemarin, saya dan beberapa teman kampus menggelar sebuah acara bernama Soundmester. Acara ini dibuat atas dasar iseng-iseng belaka untuk mengisi waktu libur perkuliahan. Waktu itu lokasi acara bertempatan di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta dan diisi oleh teman-teman satu kampus yang masuk dalam sebuah band dan seorang rapper yang juga merupakan teman satu kampus juga. Waktu itu yang jadi pengisi acara adalah Toilet Surfers, Rabr, The Stonedbrothers (band saya), Blackdog Kamasutra, Kecoa Terbang, Disguises, Luneism, Dongker, dan Crunkguns. Yang datang menonton saat itu juga mayoritas adalah anak-anak yang satu kampus dengan saya. Jadi semacam acara nongkrong bareng, tapi ada band pengisi acara juga yang menemani malam itu.



Gak mau acara selesai sampai di situ, kita--saya dan teman-teman panitia--membuat Soundmester Vol.2. Acaranya hari Minggu kemarin, tanggal 12 Agustus 2018 di Miss Qi, Panglima Polim, Jakarta. Agak berbeda sih dengan gelaran sebelumnya. Pengisi acara di Soundmester Vol.2 ini lebih banyak diisi oleh band-band dari luar kampus. Tapi gak masalah, karena yang penting adalah senang-senang dan menambah temannya.

Di Soundmester Vol.2 yang dipilih sebagai pengisi acara adalah Vanilla Clove, Coff, Surkensonik, Disguises, Setan Kesetrum (band asal-asalan saya), Manumanasa, The Broto, Klasgenot, dan The Postman. Meskipun mungkin tidak seramai di volume pertama, tapi saya cukup senang bisa ambil bagian di acara kecil-kecilan seperti Soundmester ini.

Doakan saja semoga ke depannya Soundmester bisa terus berlanjut dan bisa mengundang band-band keren lainnya yang semakin beragam.

Friday, 25 May 2018


Kalau ngomongin soal kaum Hawa yang punya profesi--baik sampingan maupun utama--sebagai musisi, yang ada di kepala saya pertama kali adalah, "lagunya pasti melow dan mendayu-dayu". Setuju gak? Saya tau, kalau gak semua musisi wanita itu karyanya melulu soal cinta dan galau semata. Kayak band asal kota kembang yang satu ini, nih. Namanya Bananach.

Band yang berpersonil Karina (vokal), Mojan (gitar), Azni (gitar), dan Fay (drum) ini menawarkan musik yang berbeda dengan musisi (lokal) wanita kebanyakan. Coba saja dengar single perdana mereka yang berjudul, "Aphrodites", anda pasti akan menemukan sendiri perbedaannya.



Tapi sebenarnya yang lebih keren dari semua itu adalah, lagu ini punya pesan satir untuk pendengarnya, khususnya para perempuan yang termakan konsumerisme merk dan berhala duniawi. Keren, kan? Sekarang, coba anda sebutkan, di era sekarang ini, berapa banyak musisi perempuan dalam negeri yang karyanya berbicara soal kritik sosial? Cuma sedikit? Atau justru anda kebingungan? Haha. Jadi tidak salah, kan, kalau saya bilang Bananach ini adalah band lokal yang cukup keren?

Hmm.. apa lagi ya? Ah, saya gak tau lagi mau nulis apa. Intinya, Bananach ini band keren yang patut ditunggu kehadirannya, baik album maupun penampilan langsungnya di atas panggung. Tapi yang pertama dan pasti saya tunggu-tunggu adalah kelahiran albumnya. Hehehe.

Semoga sukses dan lekas menjadi besar, Bananach.

Thursday, 24 May 2018


Salah satu yang membuat saya ingin menjadi Jurnalis (khususnya Jurnalis Musik) adalah film Almost Famous! Film yang muncul tahun 2000 ini sukses menginspirasi saya untuk menjadi seorang Jurnalis. Waktu itu saya sedang dilanda kebingungan memilih konsentrasi kuliah, antara Periklanan dan Jurnalistik. Kebetulan, waktu itu posisinya sedang libur kuliah dan saya memilih untuk streaming film saja di rumah. Tema film yang saya cari adalah film-film yang bertemakan musik. Ada banyak, memang. Dan salah satunya adalah Almost Famous.

Singkat cerita, Almost Famous bercerita tentang seorang anak bernama William Miller yang bercita-cita menjadi seorang Jurnalis Musik setelah sebelumnya diberi 'peninggalan' oleh sang kakak, Anita Miller, berupa tas koper tua yang di dalamnya terdapat kumpulan piringan hitam milik Anita, mulai dari Pet Sounds-nya The Beach Boys, Get Yer Ya-Ya's Out!-nya The Rolling Stones, II-nya Led Zeppelin, Axis: Bold As Love-nya Jimi Hendrix, sampai Blonde on Blonde-nya Bob Dylan.

Tapi entah kenapa, William tertarik pada satu piringan hitam yang di dalamnya terdapat secarik kertas yang ditulis oleh sang kakak dan bertuliskan, "Listen to 'Tommy' with a candle burning and you will see your entire future." Akhirnya, ia memutar piringan hitam itu di dalam kamar dengan kondisi lampu kamar dimatikan dan sebatang lilin yang menyala. Kemudian mengalun, lah, "Spark" yang merupakan salah satu nomor di album Tommy milik The Who.


Semenjak itu, kehidupan William, pun, berubah.

Almost Famous--di samping meditasi yang dilakukan William untuk mencari tau masa depannya seperti apa--sukses membuat saya tertarik dengan dunia musik dan jurnalistik. Saya juga sadar betul bahwa kehidupan William dalam film tersebut (mungkin) tidak akan lagi terulang di era milenial ini. Tapi ya namanya juga film, meskipun film itu diangkat dari kisah nyata sang Sutradara, Cameron Crowe, pasti ada sedikit cerita yang dilebih-lebihkan supaya penonton tertarik. Tapi bagi saya, Almost Famous adalah film yang cukup keren. Entah sudah berapa kali saya menonton film tersebut. Hehe.

Film ini sepertinya cocok dikonsumsi bagi mereka yang ingin menjadi seorang Jurnalis Musik atau yang masih bingung ingin menjadi apa di masa depan nanti.

Penasaran? Coba anda tonton sendiri filmnya dan jangan lupa kasih tau saya pendapat anda soal film ini, ya.


*Tulisan ini terinspirasi setelah melihat cuitan Mas Samack di Twitter, dan ditulis sambil mendengarkan full album 'Tommy' di Youtube.

Tuesday, 20 February 2018

carmencitta.me


Di era milenial ini, televisi bukan lagi menjadi pilihan saya untuk mengisi waktu luang di rumah. Saya lebih sering menghabiskan waktu duduk di depan laptop dan menonton video di Youtube atau streaming film yang sudah tidak tayang di bioskop.

Entah kapan terakhir kali saya sibuk berada di depan tv hingga lupa waktu. Mungkin waktu kecil dulu, ketika film kartun masih banyak tayang di Minggu pagi. Ya, tayangan televisi kini sudah kurang menghibur. Informatif? Mungkin masih banyak. Tapi tayangan hiburan di televisi kini sudah minim sekali. Terlebih acara musik, yang juga sudah tidak lagi menarik dari segi manapun. Kalau dulu, saya cukup senang menyaksikan MTV Ampuh dan menunggu siapa yang berada di chart pertamanya. Tapi setelah itu, rasanya hampir tidak ada program musik berkualitas di televisi. Kecuali RadioShow TV One.

RadioShow TV One adalah salah satu program televisi yang saya favoritkan. Kenapa? Karena cuma mereka yang berani mengundang band-band lokal keren, yang stasiun tv manapun, mungkin, tidak akan pernah mau mengundang mereka. Efek Rumah Kaca, Besok Bubar, Burgerkill, The SIGIT, Deadsquad, White Shoes & The Couples Company, dan The Upstairs adalah segelintir band yang pernah mengisi program acara tersebut. Tidak heran jika RadioShow digemari banyak anak muda pada waktu itu karena musisi-musisi yang tampil live di sana beragam genre musiknya.

Selain RadioShow, salah satu program tv lain yang menarik menurut saya adalah Tonight Show. Salah satu program dari NET TV yang sepertinya, sedikit banyak mengadopsi dari The Tonight Show Starring Jimmy Fallon.


zulu.id


Tonight Show NET memang bukan program acara seperti RadioShow. Tapi keduanya punya kesamaan, yaitu berani mengundang band-band indie tanah air. Kenapa saya bisa mengatakan mereka berani? Karena pada dasarnya, mayoritas stasiun televisi pasti mengincar rating. Jika sebuah program acara, yang nirfaedah sekalipun, namun banyak ditonton orang, tentu ratingnya akan tinggi, dan itu menjadi keuntungan bagi acara dan stasiun televisinya. Jika melihat dari segi program hiburan—dalam hal ini musik—tentu stasiun televisi lain pada umumnya lebih memilih untuk mengundang band-band pop tanah air yang sudah bisa dipastikan masuk di telinga banyak orang.

Tapi sepertinya, baik RadioShow maupun Tonight Show, keduanya tidak terlalu memikirkan tinggi rendahnya rating. Itu yang patut diapresiasi dari keduanya. Selain itu, kedua acara tersebut juga berjalan dengan semestinya dan tidak merubah haluan. Ya, seperti yang kita tahu, beberapa stasiun televisi awalnya membuat sebuah program acara yang berbau musik. Namun seiring berjalannya waktu, dengan menggunakan nama program yang masih sama, acara tersebut berubah 180 derajat dan diisi dengan olok-olokkan antar pembawa acara serta pembahasan mengenai kehidupan pribadi mereka yang sejujurnya sangat tidak penting.


Apakah tulisan ini penting? Tergantung bagaimana Anda yang menilainya.

Friday, 7 April 2017

John Paul Patton (KPR). Foto oleh: Bayu Pradhana

Rabu (5/4) kemarin sekitar pukul 8 malam, pintu masuk Eastern Promise, Kemang, Jakarta dipenuhi pemuda-pemuda yang mayoritas berkaos hitam. Mereka menunggu terbukanya pintu Eastern Promise, yang merupakan tempat penyelenggaraan acara Huruhara Vol. 3. Kali ini, Berita Angkasa dan Kelompok Penerbang Roket (KPR) mengajak sekelompok orang tua yang menamai diri sebagai Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR). Sebuah band bergenre komedi, yang selalu bisa membuat penonton bergoyang dan ikut bernyanyi.

Sekitar pukul 20:40, pintu Eastern Promise mulai dibuka seiring bertambahnya massa yang semakin bertambah—padahal pada flyer dikatakan bahwa open gate dilakukan pukul 8 malam. Disengaja? Bisa saja, mengingat orang Indonesia erat kaitannya dengan “jam karet”.

Si empunya acara pun naik ke atas panggung satu-persatu ketika MC selesai dengan tugasnya. Dimulai dari Viki (drum), lalu disusul Coki (bass/vokal), dan yang terakhir Rey (gitar). Intro pun mulai berkumandang dan disusul lagu pamungkas pembangkit amarah, “Anjing Jalanan”. Penonton mulai bergoyang kesana-kemari, melakukan stage diving, dan bernyanyi bersama.

Namun ada saja kesalahan teknis yang terjadi tanpa diduga-duga. Tetiba saja gitar Rey mati ketika lagu “Beringin Tua” baru saja dimulai. Dengan sigap, Coki dan Viki yang mengetahui hal itu terpaksa ber-improvisasi sembari menunggu gitar Rey kembali hidup. Selang beberapa lama, gitar kembali menyala dan KPR memulai kembali aksinya.

Lagu-lagu baru seperti “Loba” dan “Berita Angkasa” ikut serta dalam setlist mereka. Ada pula lagu yang jarang dan belum pernah mereka mainkan, seperti “Let’s Us Dance” dari album kedua mereka yang bertajuk HAAI, dan “Jimi Hendrikoes” yang merupakan lagu eceran mereka dan hanya tersedia dalam format kaset.

Seperti yang biasa dilakukan di acara Huruhara, menjelang lagu terakhir, KPR dan band tamunya harus bertukar satu lagu untuk dimainkan. Lagu “Malam Jum’at Kliwon” milik OM PMR menjadi pilihan KPR dan dibawakan dengan gaya rock khas KPR. Penampilan pun ditutup dengan lagu pamungkas lain dari album perdana Teriakan Bocah, “Mati Muda”.

Kini giliran Joni Iskandar cs yang membawa kesenangan ke Eastern Promise. Membuka penampilan mereka seperti biasa dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama-sama, lalu disusul dengan lagu “Bintangku Bintangmu. Eastern Promise seketika menjadi tempat dangdutan dengan panggung yang mulai diisi tidak hanya para personel OM PMR, melainkan juga beberapa penonton yang berada di garda terdepan naik. Hal itu tentu membuat kesal beberapa penonton yang berada di barisan belakang dengan makian yang tertuju pada para penonton di atas panggung itu. Tapi acara tetap berjalan lancar, meski ada saja penonton yang harus rela kehilangan handphonenya.

Lagu “Dimana Merdeka” menjadi pilihan OM PMR dan diubahnya menjadi versi dangdut khas mereka. Semua penonton menikmati termasuk para personil KPR itu sendiri. Di penghujung penampilannya, lagu “Judul-Judulan” menutup perjumpaan rock dan dangdut pada malam hari itu.


Sebuah malam yang panjang dengan wajah puas dari para penonton yang hadir saat itu.

Media tengah ramai akan pemberitaan tentang tertangkapnya seorang PNS, Fidelis Arie Sudarwanto, karena menanam 39 batang ganja di kediamannya. Penanaman ganja itu ia lakukan untuk mengobati sang istri, Yeni, yang didiagnosa mengidap penyakit langka, syringomyelia atau tumbuh kista di sumsum tulang belakangnya. Fidelis sempat melakukan berbagai cara, dari berpindah dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain, hingga menggunakan cara tradisional namun istrinya tak kunjung sembuh. Lalu Fidelis menemukan di internet bahwa ekstrak ganja mampu menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk penyakit yang dialami istrinya. Referensinya jatuh pada penderita syringomyelia di Kanada yang mampu bertahan hidup dengan tanaman tersebut. Kini sang istri telah tiada, tepatnya 32 hari setelah Fidelis ditangkap petugas BNN dan meninggalkan kedua buah hatinya.

Berita ini ramai diperbincangkan—setidaknya menurut saya, bukan karena banyaknya ganja yang ditanam, atau perihal Fidelis yang notabene seorang PNS dan melanggar aturan hukum dengan menanam ganja. Tapi, lebih kepada pertanyaan: “dimana sisi humanis para penegak hukum?”, “dimana sikap ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ mereka?” Mungkin benar, hukum harus tetap berjalan, karena di Indonesia, ganja itu ilegal dan termasuk dalam narkotika golongan I. Tapi coba lihat, apakah Fidelis atau Yeni menggunakan ganja untuk bersenang-senang, merasakan sensasi yang ganja berikan pada diri mereka? Jawabannya tentu saja tidak.

Saat ini Fidelis masih berada di dalam bui, sedangkan Yeni telah meninggal dunia karena berhenti diberi pengobatan oleh suaminya. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab? Siapa yang harus mengurus kedua anaknya? Kakek? Nenek? Om? Tante? Atau, tetangga? Entahlah. Tapi saya harap, pemerintah dan mereka yang berkuasa akan hukum di negara ini, menyudahi saja kasus Fidelis ini. Tunjukkan rasa kemanusiaan kalian jika kalian memang manusia. Lagi pula dimana letak kesulitan meneliti khasiat ekstrak ganja? Saya yakin, terutama di jaman sekarang, alat-alatnya sudah memumpuni begitu pula dengan penelitinya.

Ya, semoga kasus ini cepat selesai dan Fidelis dibebaskan. Diharapkan pemerintah dan para penegak hukum memberi kesempatan bagi para peneliti untuk melihat, apakah benar ekstrak ganja mampu menyembuhkan berbagai penyakit atau tidak? Jika tidak ada khasiatnya, biarkan ia ditahan. Tapi jika benar mampu menyembuhkan, tutup kasusnya dan lepaskan Fidelis. Lakukan revisi pada pasal 8 UU narkotika tersebut.

Sedikit tambahan bagi yang belum mengetahui, Fidelis melanggar pasal 8 UU narkotika yang berisi, “Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.” Tapi lihat pasal sebelumnya, yaitu pasal 7 yang berbunyi, “Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Bagaimana? Silahkan anda nilai sendiri.

Friday, 19 August 2016

source: rollingstone.co.id

Pada bulan Mei 2016 silam, Rolling Stone Indonesia mengadakan sebuah acara bertajuk Ampera Ria Safari. Acara tersebut digelar di Rolling Stone Café, Jakarta Selatan, dalam rangka merayakan hari ulang tahunnya yang ke-11.

Acara yang dimulai pukul 13.00 itu, dimeriahkan oleh musisi-musisi Tanah Air yang berkualitas, seperti Scaller, The Adams, Seringai, Kelompok Penerbang Roket, The SIGIT, Isyana Sarasvati, dan dua DJ yang memainkan musik lawas pilihan; Irama Nusantara dan Diskopantera.

Waktu itu, band yang membuat gue penasaran adalah Scaller, karena gue cuma sering menontonnya di Youtube dan belum pernah menyaksikannya secara live. Tapi karena ada kendala dari pihak penjual tiket, jadi gue gak bisa menyaksikan Scaller dan baru bisa menikmati acara tersebut sehabis maghrib, yaitu saat KPR manggung. Itu juga akhirnya gue beli FDC di Rolling Stone Cafénya. Sebelumnya, gue cuma bisa menyaksikan acaranya dari luar. Kebetulan, dari luar gue bisa melihat siapa yang lagi manggung dan sedikitnya tau kayak gimana keseruan acaranya.

Ya, meskipun hitungannya gue terlambat, tapi secara keseluruhan gue menikmati acaranya. Apalagi rundown yang dibuat cukup keren menurut gue. Gimana nggak, trio band yang memainkan musik keras, berurutan di rundownnya. Setelah Seringai manggung, band selanjutnya ada KPR, lalu disusul oleh The SIGIT. Untungnya, ada jeda adzan maghrib setelah Seringai. Jadi para lelaki agak beringas di sana bisa beristirahat dulu sejenak. Lain halnya ya, dengan acara-acara seperti Hammersonic. Acara itu sepertinya memang diadakan untuk mereka-mereka yang udah beringas sejak lahir. Hehe.

Itu aja, sih, sedikit cerita tentang pengalaman gue menonton konser musik.

Kalau lo, ada gak, pengalaman seru atau yang gak akan lo lupakan selama menonton konser musik? :)

Tuesday, 9 August 2016


Mungkin sebagian besar dari lo yang membaca tulisan ini menggunakan social media bernama LINE. Dan sepertinya, gue gak perlu kasih tau lagi kegunaannya apa dan fitur apa aja yang diberikan oleh LINE. Karena selain lo bisa cari informasi itu di google, postingan ini juga bukan postingan review atau postingan yang memberikan tips dan trik menggunakan LINE.

Jadi gini, gue menggunakan LINE sekitar tahun 2012-2013. Dimana saat itu, orang-orang masih banyak yang menggunakan aplikasi BBM untuk chatting daripada LINE. Dan gue, merasakan perubahan yang terjadi sama LINE sampai hari ini. Salah satunya adalah, munculnya LINE@.

Setelah adanya LINE@, gue merasa agak risih saat melihat timeline LINE. Tapi di sisi lain, gue juga merasa dapat pengetahuan baru dan lumayan terhibur dengan beberapa akun LINE@ yang ada. Misalnya, ada akun Berani Beda, yang membahas soal musik. Tatank Galaw, akun humor yang tulisannya alay dan kadang ada sepatah-dua patah kata yang membuat gue ketawa. Ada juga Hidden Secret, yang kontennya membahas masalah politik.

Tapi di antara mereka semua, ada juga akun-akun konyol yang menurut gue (maaf) tidak ada manfaatnya. Sekali lagi, ini menurut gue ya.


1. Akun Quotes Galau

Gue gak tau, Adminnya ini cewek atau cowok. Yang jelas, semua kontennya berisi quotes-quotes galau ngehe yang menjijikkan banget kalau ternyata Adminnya adalah seorang laki-laki.
Gue juga gak tau, apakah di kehidupan nyata, sang Admin adalah orang yang mengisi kesehariannya dengan kegalauan, meratapi nasib, ngikutin trend, atau semua itu dia lakukan hanya sekedar untuk mengejar likes, yang berujung dengan uang?

Ya lo tau, kan, kalau quotes-quotes galau atau apapun yang berhubungan dengan cinta-cintaan, pasti banyak dicari sama orang. Terutama mereka yang masih remaja dan hidupnya dipenuhi oleh drama. Jadi, ya bisa aja akun-akun galau itu cuma mencari materi aja.

2. Akun Video yang Bukan Video

Dulu, akun ini sempat gue ikuti karena kontennya selalu berisi video-video lucu. Tapi belakangan ini, isi kontennya berubah 180 derajat dan tidak sesuai dengan namanya. Akun ini jadi tidak ada bedanya dengan akun-akun galau ngehe yang tersebar luas di luar sana. Udah video gak ada, "menakjubkan" juga nggak. Jadinya, ya nyampah doang.

3. Akun Fakir Like

Ini juga gue gak ngerti, sih. Akunnya semacam survey, tapi gak ada faedahnya gitu. "Like kalau kamu sayang ibu", "Like kalau kamu mau liburan ke tempat ini". Lebih parah lagi, dulu ada akun yang seperti ini, tapi secara gak langsung maksa banget buat dilike. Katanya sih, kalau gak ngelike, kita bisa masuk neraka, dibilang gak sayang ibu, pokoknya tingkat kemanusiaan kita bisa ketauan deh dari kita ngelike atau nggak. Hebat banget, ya?

4. Akun Golongan Darah

Ini nih yang sering banget muncul di timeline gue. Gue gak mau panjang lebar, deh, ngomongin akun ini. Cuma mau nanya aja, gimana caranya, lo bisa tau kepribadian lo atau seseorang dari golongan darahnya? Kalau lo adalah Admin atau pengikut setia dari akun ini, jelasin ke gue gimana caranya lo bisa tau.

Gue waktu sekolah belajar IPA, terutama Biologi. Tapi gue gak pernah diajarin kalau dari golongan darah, kita bisa tau kepribadian seseorang. Entah guru gue yang salah karena gak ngajarin, atau.... (isi sendiri).

5. Akun Pribadi Yang Doyan Like Status Sendiri (BONUS!)

Ini yang paling bikin gue kesel. Lo keliatan banget kalau lagi nyari like yang banyak sampe ratusan bahkan ribuan dengan ngelike status lo sendiri. Orang-orang kayak gini yang menurut gue gak punya kerjaan sama sekali. Misalnya, lo bikin status setahun yang lalu. Terus lo like and share status lo itu biar nongol lagi di timeline dan dengan harapan, yang belum ngelike bakal ngelike status purba lo itu. Biji kuda!

Gini ya, secara gak langsung, lo yang melakukan hal tersebut udah meresahkan banyak temen lo di luar sana. Beberapa temen lo juga pasti mikir, "Anjing, ini orang setiap hari ngelike status sendiri mulu. Pengen gue block, tapi temen." Akhirnya, lo masih bebas berkeliaran di luar sana.


Mungkin gue gak bisa menyalahkan semuanya ke akun-akun tolol di atas. Mereka yang ngelike dan membagikannya ke timeline juga patut disalahkan. Karena, mereka-mereka itulah yang sebenarnya membuat akun-akun pembodohan itu muncul di timeline gue. Kalau lo, atau kita, deh, mulai berhenti menyebarluaskan akun-akun seperti itu, gue rasa orang di balik akun itu juga akan pensiun secara perlahan. Kecuali yang nomor 5, ya. Itu sih emang keliatan banget kalau mereka fakir like.

Oke. Kira-kira itu aja sih yang mau gue sampaikan di tulisan kali ini. Kalau ada sesuatu yang mau lo sampaikan ke gue atau lo merasa tersindir, silahkan komen aja di bawah postingan ini. Justru gue lebih seneng kalau ada yang merasa tersindir. Hehe.

Pesen gue sih cuma satu: Anjing kalian semua yang haus akan like dan eksistensi!

Saturday, 28 May 2016

Gue beruntung bisa dilahirkan di era 90-an. Era dimana gue sibuk bermain bersama teman-teman di luar rumah. Seperti main gundu, bola, galaksin, petak umpet, tamiya, beyblade, tajos (gimana sih tulisannya?), dan hal-hal lain yang 'sejujurnya', tidak gue temukan pada anak-anak di era sekarang.

Mungkin benar, jaman terus berkembang seiring berjalannya waktu. Seperti sekarang aja, kita sudah sampai di era modern yang semua orang menginginkan segalanya bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Atau lebih pendeknya lagi, gak ribet.

Hampir semua yang kita inginkan bisa dilakukan hanya dengan menggunakan gadget. Kita cuma butuh internet, dan sebagian dari yang kita inginkan bisa terpenuhi dengan mudah. Contohnya, bertukar kabar dengan keluarga atau temen-temen yang jauh disana, belanja online, mencari informasi di masa lampau atau berita yang saat ini sedang banyak diperbincangkan, dan lain sebagainya.

Untuk belajar pun, sekarang gak perlu susah-susah nyari dari satu halaman ke halaman lain di sebuah buku. Sekarang sudah ada google, semua jadi lebih gampang. Dulu, waktu gue SMP, gue pengen banget bisa main gitar. Karena gue belum punya gitar saat itu, jadi gue harus pinjem dulu ke tetangga gue. Setelah itu, ya gue harus belajar dari orang yang udah bisa, atau beli buku yang isinya chord-chord gitar dan lagu-lagu beserta chordnya untuk latihan. Iya. Internet saat itu belum seperti sekarang ini.

Kalau sekarang? Udah ada youtube. Tinggal cari lagu apa yang mau kita pelajarin, terus ikutin tutorialnya. Gampang. Hampir semua lagu yang mau kita cari, ada di situ. Dari band-band yang sekarang udah bubar atau personelnya udah gak ada semua, sampai yang baru-baru muncul sekarang-sekarang ini.

Nah, tapi ada satu pertanyaan yang muncul di benak gue: kenapa lagu anak-anak sekarang udah gak ada?




Maksudnya begini. Di jaman modern seperti sekarang, lalu dengan banyaknya musisi-musisi baru yang bermunculan, kenapa gak ada satupun orang yang menciptakan lagu untuk anak-anak? Gue bukan musisi atau orang yang berkecimpung di dunia musik. Jadi untuk masalah itu, sepertinya bukan hal yang gampang buat gue. Tapi dimana mereka? Dimana para penerus Papa T. Bob dan kawan-kawannya? Gimana gak banyak anak-anak kecil yang nyanyi cinta-cintaan, kalau lagu untuk anak-anak di jaman sekarang aja udah gak ada?


Ya, gue sih cuma bisa berharap aja. Dengan banyaknya musisi berkualitas di Indonesia, bisa memunculkan kembali penerus Joshua dan Tina Toon di masa yang akan datang. Hehe.

Friday, 29 April 2016


Blink-182 adalah sebuah band beraliran pop-punk yang sekarang beranggotakan trio Mark Hoppus (bass,vokal), Travis Barker (drum), dan Matt Skiba (gitar,vokal). Sebelumnya, Blink-182 digawangi oleh Mark Hoppus, Tom DeLonge, dan Scott Raynor. Lalu posisi Scott Raynor digantikan oleh Travis Barker sebagai drummer. Begitu juga dengan Tom DeLonge. Posisinya sebagai gitaris dan vokalis, sekarang digantikan oleh Matt Skiba (pentolan Alkaline Trio).

Gue mulai mendengarkan lagu-lagu mereka dari masih berseragam putih-merah, sampai sekarang gue udah punya bulu ketek. Dan tanggal 27 April 2016 kemarin, mereka merilis single terbaru mereka yang berjudul "Bored To Death".

Gue sempat mikir, "gimana, ya, jadinya Blink-182 tanpa Tom DeLonge?" "berubah gak, ya, genre mereka?"

Waktu single "Bored To Death" muncul di youtube, tanpa pikir panjang, gue langsung buka laptop dan dengerin lagunya. Malah, gue ulang terus. Hahaha.

Kalau menurut gue, sih, gak ada yang berubah dari mereka. Genrenya masih sama kayak dulu. Matt Skiba juga gak mengecewakan. Terus kalau didengerin, suara Matt Skiba sama Mark Hoppus rada-rada mirip gitu. Iya gak, sih?

Intinya, sih, lagunya keren. Mereka gak kehilangan jiwa punk mereka. Tinggal tunggu aja, kapan mereka mau adain tour ke Indonesia. Hehe.



Foto: consequenceofsound.net

Thursday, 28 April 2016


Beberapa orang, tepatnya mereka yang ingin menjadi musisi, mungkin lebih memilih untuk memainkan musik mainstream dengan alasan karena pasti disukai banyak orang. Tapi, tidak sedikit juga yang memilih untuk memainkan musik yang bisa dibilang, anti-mainstream, karena memang selera musik mereka berada di sana.

Di tulisan gue kali ini, gue mau membahas sedikit soal yang terakhir tadi. Soal mereka, yang memainkan musik anti-mainstream dan dianggap musik mereka tidak jelas oleh banyak orang.

Mungkin, selera musik lo berbeda dengan kebanyakan temen-temen lo. Mungkin mereka gak suka dengan lagu-lagu yang udah lo dan band lo buat. Tapi meski begitu, lo gak boleh berhenti di tengah jalan. Lo gak boleh putus asa. Kenapa? Karena jelas, kuping orang itu beda-beda. Sama halnya dengan makanan. Mungkin lo suka makan sayur asem, tapi gue nggak. Mungkin lo gak suka makan bakso, tapi gue suka. Kayak gitu aja.

Apalagi, sekarang ini kita berada di era digital. Semua serba dimudahkan sama yang namanya internet. Nah, gunakan tuh internet semaksimal mungkin. Bikin fanpage di facebook, bikin akun twitter, instagram, soundcloud, dan temen-temennya yang lain deh pokoknya. Share karya lo di sana. Yang namanya rejeki, gak ada yang tau kan? Karena sekarang orang lebih banyak bergelut di dunia maya, jadi kemungkinan besar karya lo bisa dilirik orang, ya, dengan cara share ke social media. Kalau temen-temen deket lo kurang suka dengan musik lo, mungkin di dunia maya lo akan menemukan yang "serasi" selera musiknya dengan lo. Yegak?

Kok kesannya gue kayak ngajarin, ya?

Hahaha. Nggak, kok. Gue bukan sok ngajarin. Tapi gue mencoba untuk memberikan semangat buat lo yang lagi berjuang untuk masuk ke dalam ranah dunia permusikkan. Kalau lo nggak merasa dikasih semangat sama gue, yaudah, gapapa. Namanya juga usaha.

Pokoknya, semangat terus, deh! Kalau lo punya lagu dan butuh kritik-saran, gue siap kok. Kirim aja ke sini: bayupradhana28@gmail.com
Pasti gue masukin kok ke blog ini. Kalem.

Foto: xlr8r.com

Tuesday, 15 March 2016

Beberapa tahun yang lalu, kira-kira waktu gue masih berseragam putih biru, gue sempat tertarik untuk memasuki dunia tulis-menulis. Gue sendiri gak tau pastinya kapan, tapi yang jelas, tiba-tiba aja gue membuat satu postingan absurd di blog ini.

Sebelumnya gue pernah bikin blog juga. Tapi isinya tentang games dan segala cara curang di dalamnya. Semua gue lakukan dengan copy-paste dari blog orang lain. Karena sepi, akhirnya gue memilih untuk menghapus blog itu. Kebetulan, temen gue pengen bikin blog semacam terselubung gitu. Ada empat orang, termasuk gue. Tapi gue gak bertahan lama karena menurut gue hal itu kurang seru. Kerjaannya copy-paste dari blog orang lain, dan kita gak bikin tulisan sama sekali. Untuk yang belum pernah dengar terselubung, jadi terselubung itu semacam blog/web yang tulisan-tulisannya mirip-mirip dikit sama acara di tv yang isinya kira-kira gini: "7 Fakta Unik Tentang Jomblo", "7 Hal Aneh Yang Menggemparkan Dunia", dan yang lain sebagainya.

Oke, lanjut. Karena gue merasa bosan dengan blog yang dibuat oleh temen gue itu, akhirnya gue memutuskan untuk membuat blog sendiri dengan tulisan-tulisan murni dari jari-jari tangan gue. Iya. Blog ini.

kontenesia.com

Untuk masalah copy-paste atau plagiat, sebenarnya sepele, sih, kalau menurut gue. Tapi kalau keterusan dan jadi kebiasaan, kan, gak bagus juga. Kasian yang udah capek-capek berkarya tapi karyanya diambil sama orang lain tanpa mencantumkan sumber. Iya, kan?

Jujur aja, gue pernah kena karmanya. Waktu itu gue lagi iseng-iseng searching di google. Niatnya mau blogwalking. Terus akhirnya gue nemuin satu blog, dengan satu postingan yang judul dan isinya sama persis dengan postingan gue. Karena merasa itu tulisan gue, ya gue komen di postingan itu dengan membawa "kebun binatang". Hahaha.

Tapi akhirnya gue coba untuk mikir lagi. Gue coba untuk gak terlal memikirkan masalah itu. Gue dulu sering plagiat tulisan orang. Pas gue bikin tulisan sendiri, gantian tulisan gue yang diplagiat orang lain. Rasanya emang gak enak. Asli. Tapi itu karma. Jadi, ya, gue jadiin pelajaran aja. Hehe.

Maaf sebelumnya, gue bukan mau sok ngajarin. Tapi kalau emang mau berkarya dan dapat apresiasi dari orang lain, ya berkaryalah dengan jujur. Bukan dengan mencuri karya demi mendapat eksistensi dan pujian dari orang lain. Lagipula, bukankah kita lebih bangga kalau hasil jerih payah kita sendiri bisa mendapat apresiasi dari banyak orang? Apalagi kalau sampai menginspirasi mereka semua.

Yang terpenting itu jalanin aja dulu. Berkarya dengan jujur. Semua butuh proses. Dan jalanin aja setiap proses itu dengan senang hati. Kita ada di dunia ini juga karena proses "senang-senang" kedua orang tua kita, kan? :)

Wednesday, 17 February 2016

google.com


Ada banyak perspektif tentang adanya hari valentine yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Beberapa orang merayakannya dengan orang yang mereka sayangi, tapi beberapa orang lagi, lebih memilih untuk tidak merayakannya sama sekali. Alasannya beragam; gak punya pacar, gak punya gebetan, gak ada uang buat ngasih coklat atau bunga, dan yang paling krusial adalah 'karena haram'.

Sebenarnya apa, sih, yang diharamkan dari hari kasih sayang? Kalau gue pribadi, gue kurang setuju dengan pemikiran segelintir orang yang menyatakan valentine itu haram. Karena menurut pemikiran gue yang sempit ini, gak ada yang salah dari mengapresiasikan rasa kasih sayang kepada sesama selama satu hari, entah itu dalam bentuk apapun. Bukankah kita hidup untuk saling mengasihi dan menyayangi semua orang? Terus, kenapa harus diharamkan?

Gue disini netral. Gue tidak merayakannya, tidak juga bilang kalau valentine itu haram. Jadi, untuk lo yang bilang valentine itu haram, coba pikir menggunakan akal sehat lo. Jangan disangkut-pautkan dengan agama terus.

"Gue nggak mengharamkan valentine. Tapi bukannya kasih sayang bisa dirayakan setiap hari? Gak perlu nunggu tanggal 14 Februari dulu, kan?"

Apa kabar dengan hari ibu? Apa menunjukkan kasih sayang sama nyokap harus nunggu hari ibu dulu? Bukannya setiap hari bisa? Apalagi itu nyokap sendiri, yang membesarkan lo sampai detik ini.

Intinya gini, kalau lo mau merayakan, ya, silahkan. Nggak juga gak papa, kok. Jangan mempersulit segala sesuatunya. Lagipula, hari kasih sayang itu gak melulu untuk pacar atau gebetan, kok. Namanya juga kasih sayang. Cakupannya luas. Lo bisa merayakannya dengan memberikan makanan atau pakaian layak pakai kepada mereka yang membutuhkan, sebagai tanda kasih sayang terhadap sesama. Bisa juga membersihkan sampah yang berserakan di sekitar rumah lo, sebagai tanda kasih sayang terhadap lingkungan. Dan masih banyak lagi cara untuk merayakan hari kasih sayang. Gak melulu soal pacar, atau gebetan.

Kalau menurut lo tentang masalah ini gimana? Tulis pendapat lo di kolom komentar ya.

Wednesday, 30 December 2015

imotorhead.com


Tanggal 28 Desember kemarin, frontman Motörhead, Lemmy Kilmister meninggal dunia. Para metalhead di seluruh dunia mungkin sedang berduka saat ini. Menurut CNN Indonesia, Lemmy terkena penyakit kanker ganas pada tanggal 26 Desember lalu, dan sempat melakukan pembedahan dan menggunakan alat pacu jantung pada tahun 2013 kemarin.

Mungkin gue memang bukan penggemar berat Motörhead seperti kebanyakan orang yang menyukai aliran musik Heavy Metal. Tapi setidaknya, gue tau beberapa lagu dari Motörhead seperti Ace of Spades dan Overkill. Ya, cuma itu yang gue tau. He he he.

Gue memang tidak pernah fanatik dalam menyukai sesuatu. Seperti halnya, musik. Gue memang suka dengan lagu-lagu bernuansa 'kencang' yang kebanyakan orang mungkin akan berkata begini ketika mendengarkannya: "lagu apaan sih ini? teriak-teriak gak jelas." Tapi gue gak pernah sampai hafal semua lagu atau daleman (baca: sejarah) 'mereka' dari awal terbentuk hingga sekarang. Yup, seperti kebanyakan orang lainnya, gue hanya penikmat musik, bukan penggila musik.

Oke. Sebagai penutup dari tulisan yang rancu ini, gue harap nanti akan ada pengganti atau penerus Lemmy yang tidak kalah kencang-nya, dan juga, karya-karya dari Lemmy Kilmister tetap abadi sampai kapanpun.

Rock In Peace, Lemmy Kilmister.

Saturday, 28 November 2015


geekamaniacs.wordpress.com

Sejak 16 April 2015, muncul sebuah peraturan baru yang menyatakan larangan menjual minuman keras di sebuah mini market. Gue kurang tau pasti apakah masih ada beberapa mini market yang menjual minuman keras, atau nggak. Yang jelas, peraturan itu pasti menimbulkan pro dan kontra antara penikmat dan bukan penikmat. Lalu, apa itu Straight Edge? Dan apa hubungannya dengan minuman keras?

Straight Edge adalah sebuah pergerakan atau gaya hidup yang anti narkoba, rokok, minuman keras, seks bebas, dan hal-hal negatif lainnya yang dapat merusak. Straight Edge lahir di awal tahun 80-an dalam sub-kultur hardcore/punk. Sedangkan di Indonesia sendiri, muncul di awal tahun 90-an.

Para kaum Straight Edge biasanya menandai punggung tangan mereka dengan simbol 'X'. Berawal dari band Teen Idles yang akan manggung di sebuah club, lalu pihak club memberikan tanda 'X' itu di punggung tangan mereka yang berarti di bawah umur. Jadi, para pekerja club dilarang memberikan minuman keras kepada mereka yang memiliki simbol tersebut. Lalu seiring berjalannya waktu, simbol 'X' itu sendiri menjadi sebuah lambang atau logo untuk para kaum Straight Edge.

Gue sendiri tidak bisa disebut sebagai kaum Straight Edge karena gue adalah seorang perokok. Butuh waktu dan proses yang lama untuk benar-benar bisa berhenti merokok. Karena pada kenyataannya, berhenti merokok itu tidak mudah. Butuh suatu hal yang sangat kuat untuk bisa benar-benar berhenti dan terlepas dari itu. Lho, kok gue jadi curhat?

Oke. Balik lagi ke Straight Edge. Menurut gue, Straight Edge adalah sebuah gerakan yang sangat positif. Mereka berada di jalan yang benar, karena memang, narkoba, rokok, dan minuman keras itu bisa merusak tubuh kita. Kalau para penikmat ketiga hal tersebut kontra terhadap kaum Straight Edge, gue rasa mereka salah besar. Karena mereka berdiri di jalan yang salah, lalu tidak menyetujui sesuatu yang benar.

Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghargai antar sesama. Tidak berlebihan dan tidak saling memojokkan satu sama lain. Perbedaan adalah hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah menjadikan perbedaan sebagai alasan utama sebuah peperangan.

Thursday, 19 November 2015

Dunia maya adalah suatu tempat yang jauh entah berada dimana. Disana, lo bisa menjadi seseorang yang bukan lo banget. Misalnya, di dunia nyata lo adalah orang yang bisa dibilang biasa-biasa aja. Tapi di dunia maya, lo bisa menjadi orang yang cakep, pintar, nakal, atau nge-rock abis. Hebat ya? Ya. Itulah dunia maya. Dunia yang bisa membuat seseorang menjadi orang lain tanpa diketahui orang lain.

Kebanyakan orang betah berlama-lama disana demi sebuah eksistensi. Masa bodo mau dibilang apa, yang penting eksis aja dulu. 'Eksistensi harga mati.' Mungkin, kalimat itu yang menjadi dasar hidup mereka.

Mencari eksistensi di dunia maya gue rasa dimulai sewaktu Twitter sedang ramai-ramainya digandrungi kaum remaja gaul holic. Gak cewek, gak cowok, ada aja yang ngetweet galau. Semakin galau, semakin gaul gue rasa. Malah, ada yang isi tweetnya galau semua. Kayak hidupnya gak pernah seneng gitu, miris, deh. Oke. Mungkin sangat wajar untuk kaum Hawa, dimana mereka lebih menggunakan perasaan ketimbang logikanya. Tapi bagaimana dengan kaum Adam yang suka update status galau? Satu kata dari gue, 'jijik'.

Untuk sebagian kaum Adam yang doyan update status galau karena perempuan, please, jangan membuat diri lo terlihat lemah gemulai. Lo adalah calon pemimpin keluarga. Sebagai pemimpin, sudah seharusnya lo bersikap sewajarnya laki-laki pada umumnya. Emang sih, semua orang, entah itu laki-laki maupun perempuan, pasti punya perasaan. Tapi apakah seorang yang katanya 'laki-laki', mengumbar kesedihan di dunia maya adalah hal yang wajar? Menurut gue nggak. Justru itu hanya akan menunjukan kalau lo adalah laki-laki yang lemah. Laki-laki yang kurang akan asupan kasih sayang.

Apakah gue orang yang laki-laki banget? Jawabannya adalah 'gak tau.' Kenapa? Karena gue tidak bisa menilai diri gue sendiri. Hanya orang lain yang bisa menilainya. Iye gak? Tapi semua itu balik lagi ke diri masing-masing. Social media itu bebas. Terserah. Lo boleh update status sesuka hati lo. Tapi kalau lo update status galau terus-menerus, terutama untuk laki-laki, alangkah baiknya lo buat suatu komunitas bersama lelaki lain yang sejenis dengan nama 'PLER'. Pasukan Lelaki Rentan. Nah, disana, lo bisa saling berbagi cerita galau dengan mereka. Asyik, bukan?

Terakhir, tulisan ini terinspirasi dari melihat timeline Line yang berisi cowok-cowok rentan yang muncul karena di-'like and share' oleh beberapa temen. Tulisan ini juga hanya sebuah pemikiran gue yang subjektif tentang 'mereka'. Kalau menurut lo, gimana?

Friday, 30 October 2015

Menurut gue, mayoritas orang-orang Indonesia itu hebat-hebat. Bisa menebak dan menilai seseorang atau sekelompok orang itu baik atau buruk, hanya dengan sekali lihat. Ibaratnya, mereka melihat hanya menggunakan sebelah mata aja. Kalau melihat orang bertato, penilaiannya langsung menuju ke kriminalitas atau bahasa enaknya, bukan orang baik-baik. Hebat, ya?
Padahal, belum tentu orang yang bertato itu kriminal atau bukan orang baik-baik. Bisa aja, mereka adalah para pecinta seni yang mau mengabadikan kesenian dengan cara merajah tubuh mereka dengan tato. Iya gak, sih? Sekalipun bukan pecinta seni, misalnya mereka bertato karena alasan ingin terlihat keren, menurut gue sih sah-sah aja. Bebas. Cuma agak sedikit terdengar gak masuk akal aja. Bertato cuma untuk terlihat keren? Coba pikir lagi, deh.
Balik lagi ke soal orang-orang Indonesia yang sering memandang sebelah mata.
Kalau menurut gue, menilai segala sesuatu itu harusnya dari berbagai sudut pandang. Apa yang terlihat baik di depan mata kita, belum tentu sebenarnya itu baik. Begitu juga sebaliknya. Apa yang terlihat buruk di depan mata kita, belum tentu sebenarnya itu buruk. Jadi, perlu menilik lebih lanjut lagi sebelum menilai segala sesuatunya. Emangnya lo mau, kalau dinilai jelek hanya karena penampilan lo aja? Misalnya, lo menyukai penampilan atau gaya ala-ala punk. Dengan jaket kulit hitam dan celana sobek-sobek di bagian dengkul. Terus orang lain yang melihat lo berpikir, lo seperti orang-orang yang gak punya masa depan cerah nantinya. HANYA karena penampilan lo aja, lo dicap gak punya masa depan cerah. Padahal, selama ini lo selalu berusaha yang terbaik untuk masa depan lo. Gak enak, kan?
Makanya, mending sekarang kita sama-sama merubah mindset kita. Belajar untuk gak melihat segala sesuatunya dari satu sudut pandang aja. Siapa tau, dari hal-hal kecil kayak gini, bisa merubah hidup kita jadi lebih baik lagi. Iya gak, sih?
Tulisan ini pernah gue tulis sebelumnya di Hipwee.

Tuesday, 27 October 2015

"Ingat satu hal. Langit tak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi." - Don Pesso.

Mungkin, lo pernah baca atau dengar quotes di atas. Entah itu dari temen lo yang ngomong secara langsung, ataupun lo sendiri yang melihatnya dari hasil browsing atau melihat di timeline social media lo. Yang jelas, gue sangat setuju dengan quotes tersebut.

Yang gue tangkap, secara gak langsung, Don Pesso mengatakan kalau langit yang tinggi aja, gak pernah bilang atau merasa dirinya "tinggi." Sedangkan kita, yang berada jauh di bawahnya dan masih menginjak tanah, kadang suka merasa diri kita tinggi. Yegak, sih? Mungkin gak semua orang. Tapi ada beberapa orang yang seperti itu.

Salah satu contohnya adalah memamerkan kepintaran yang dipunya. Oke. Kalau misalnya lo memang pintar. Punya ilmu lebih dibandingkan teman-teman lo misalnya. Tapi bagaimana kalau realitanya, kepintaran lo itu tidak dipakai untuk sesuatu yang lebih baik dan berguna? Lo menggunakan itu hanya untuk memamerkan kepada khalayak ramai? Kepintaran lo, hanya sebatas pintar doang pastinya.

Itu yang bahaya. Lo punya suatu kelebihan, tapi gak digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna. Salah besar kalau menurut gue. Gak ada gunanya juga memamerkan kepintaran lo di depan publik hanya untuk mencari seonggok kalimat, "wah, pinter juga ya lo."

Mencari pujian, bukan begitu caranya. Bukan dengan menunjukan kelebihan yang lo punya dengan maksud pamer. Ingin terlihat pintar,  justru hanya akan membuat lo terlihat bodoh. Asli. Bukan gue gak suka atau iri dengan orang yang pintar. Nggak. Gue menulis ini hanya untuk memberikan pendapat gue yang subjektif  tentang mereka yang merasa dirinya "pintar."

Kalau menurut gue, ada baiknya lo tetap merendah. Urusan orang lain tau lo pintar atau nggak, itu belakangan. Biar mereka tau dengan sendirinya aja kalau lo itu pintar. Justru, itu terdengar lebih asik dibandingkan dengan lo menunjukannya.

Pintar boleh. Tapi jangan sok pintar. Lo dukun?

Pageviews

bayupradhana. Powered by Blogger.

Followers

Popular Posts