A man who writes everything he want.

Tuesday, 20 February 2018

carmencitta.me


Di era milenial ini, televisi bukan lagi menjadi pilihan saya untuk mengisi waktu luang di rumah. Saya lebih sering menghabiskan waktu duduk di depan laptop dan menonton video di Youtube atau streaming film yang sudah tidak tayang di bioskop.

Entah kapan terakhir kali saya sibuk berada di depan tv hingga lupa waktu. Mungkin waktu kecil dulu, ketika film kartun masih banyak tayang di Minggu pagi. Ya, tayangan televisi kini sudah kurang menghibur. Informatif? Mungkin masih banyak. Tapi tayangan hiburan di televisi kini sudah minim sekali. Terlebih acara musik, yang juga sudah tidak lagi menarik dari segi manapun. Kalau dulu, saya cukup senang menyaksikan MTV Ampuh dan menunggu siapa yang berada di chart pertamanya. Tapi setelah itu, rasanya hampir tidak ada program musik berkualitas di televisi. Kecuali RadioShow TV One.

RadioShow TV One adalah salah satu program televisi yang saya favoritkan. Kenapa? Karena cuma mereka yang berani mengundang band-band lokal keren, yang stasiun tv manapun, mungkin, tidak akan pernah mau mengundang mereka. Efek Rumah Kaca, Besok Bubar, Burgerkill, The SIGIT, Deadsquad, White Shoes & The Couples Company, dan The Upstairs adalah segelintir band yang pernah mengisi program acara tersebut. Tidak heran jika RadioShow digemari banyak anak muda pada waktu itu karena musisi-musisi yang tampil live di sana beragam genre musiknya.

Selain RadioShow, salah satu program tv lain yang menarik menurut saya adalah Tonight Show. Salah satu program dari NET TV yang sepertinya, sedikit banyak mengadopsi dari The Tonight Show Starring Jimmy Fallon.


zulu.id


Tonight Show NET memang bukan program acara seperti RadioShow. Tapi keduanya punya kesamaan, yaitu berani mengundang band-band indie tanah air. Kenapa saya bisa mengatakan mereka berani? Karena pada dasarnya, mayoritas stasiun televisi pasti mengincar rating. Jika sebuah program acara, yang nirfaedah sekalipun, namun banyak ditonton orang, tentu ratingnya akan tinggi, dan itu menjadi keuntungan bagi acara dan stasiun televisinya. Jika melihat dari segi program hiburan—dalam hal ini musik—tentu stasiun televisi lain pada umumnya lebih memilih untuk mengundang band-band pop tanah air yang sudah bisa dipastikan masuk di telinga banyak orang.

Tapi sepertinya, baik RadioShow maupun Tonight Show, keduanya tidak terlalu memikirkan tinggi rendahnya rating. Itu yang patut diapresiasi dari keduanya. Selain itu, kedua acara tersebut juga berjalan dengan semestinya dan tidak merubah haluan. Ya, seperti yang kita tahu, beberapa stasiun televisi awalnya membuat sebuah program acara yang berbau musik. Namun seiring berjalannya waktu, dengan menggunakan nama program yang masih sama, acara tersebut berubah 180 derajat dan diisi dengan olok-olokkan antar pembawa acara serta pembahasan mengenai kehidupan pribadi mereka yang sejujurnya sangat tidak penting.


Apakah tulisan ini penting? Tergantung bagaimana Anda yang menilainya.

Friday, 7 April 2017

John Paul Patton (KPR). Foto oleh: Bayu Pradhana

Rabu (5/4) kemarin sekitar pukul 8 malam, pintu masuk Eastern Promise, Kemang, Jakarta dipenuhi pemuda-pemuda yang mayoritas berkaos hitam. Mereka menunggu terbukanya pintu Eastern Promise, yang merupakan tempat penyelenggaraan acara Huruhara Vol. 3. Kali ini, Berita Angkasa dan Kelompok Penerbang Roket (KPR) mengajak sekelompok orang tua yang menamai diri sebagai Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR). Sebuah band bergenre komedi, yang selalu bisa membuat penonton bergoyang dan ikut bernyanyi.

Sekitar pukul 20:40, pintu Eastern Promise mulai dibuka seiring bertambahnya massa yang semakin bertambah—padahal pada flyer dikatakan bahwa open gate dilakukan pukul 8 malam. Disengaja? Bisa saja, mengingat orang Indonesia erat kaitannya dengan “jam karet”.

Si empunya acara pun naik ke atas panggung satu-persatu ketika MC selesai dengan tugasnya. Dimulai dari Viki (drum), lalu disusul Coki (bass/vokal), dan yang terakhir Rey (gitar). Intro pun mulai berkumandang dan disusul lagu pamungkas pembangkit amarah, “Anjing Jalanan”. Penonton mulai bergoyang kesana-kemari, melakukan stage diving, dan bernyanyi bersama.

Namun ada saja kesalahan teknis yang terjadi tanpa diduga-duga. Tetiba saja gitar Rey mati ketika lagu “Beringin Tua” baru saja dimulai. Dengan sigap, Coki dan Viki yang mengetahui hal itu terpaksa ber-improvisasi sembari menunggu gitar Rey kembali hidup. Selang beberapa lama, gitar kembali menyala dan KPR memulai kembali aksinya.

Lagu-lagu baru seperti “Loba” dan “Berita Angkasa” ikut serta dalam setlist mereka. Ada pula lagu yang jarang dan belum pernah mereka mainkan, seperti “Let’s Us Dance” dari album kedua mereka yang bertajuk HAAI, dan “Jimi Hendrikoes” yang merupakan lagu eceran mereka dan hanya tersedia dalam format kaset.

Seperti yang biasa dilakukan di acara Huruhara, menjelang lagu terakhir, KPR dan band tamunya harus bertukar satu lagu untuk dimainkan. Lagu “Malam Jum’at Kliwon” milik OM PMR menjadi pilihan KPR dan dibawakan dengan gaya rock khas KPR. Penampilan pun ditutup dengan lagu pamungkas lain dari album perdana Teriakan Bocah, “Mati Muda”.

Kini giliran Joni Iskandar cs yang membawa kesenangan ke Eastern Promise. Membuka penampilan mereka seperti biasa dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama-sama, lalu disusul dengan lagu “Bintangku Bintangmu. Eastern Promise seketika menjadi tempat dangdutan dengan panggung yang mulai diisi tidak hanya para personel OM PMR, melainkan juga beberapa penonton yang berada di garda terdepan naik. Hal itu tentu membuat kesal beberapa penonton yang berada di barisan belakang dengan makian yang tertuju pada para penonton di atas panggung itu. Tapi acara tetap berjalan lancar, meski ada saja penonton yang harus rela kehilangan handphonenya.

Lagu “Dimana Merdeka” menjadi pilihan OM PMR dan diubahnya menjadi versi dangdut khas mereka. Semua penonton menikmati termasuk para personil KPR itu sendiri. Di penghujung penampilannya, lagu “Judul-Judulan” menutup perjumpaan rock dan dangdut pada malam hari itu.


Sebuah malam yang panjang dengan wajah puas dari para penonton yang hadir saat itu.

Media tengah ramai akan pemberitaan tentang tertangkapnya seorang PNS, Fidelis Arie Sudarwanto, karena menanam 39 batang ganja di kediamannya. Penanaman ganja itu ia lakukan untuk mengobati sang istri, Yeni, yang didiagnosa mengidap penyakit langka, syringomyelia atau tumbuh kista di sumsum tulang belakangnya. Fidelis sempat melakukan berbagai cara, dari berpindah dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain, hingga menggunakan cara tradisional namun istrinya tak kunjung sembuh. Lalu Fidelis menemukan di internet bahwa ekstrak ganja mampu menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk penyakit yang dialami istrinya. Referensinya jatuh pada penderita syringomyelia di Kanada yang mampu bertahan hidup dengan tanaman tersebut. Kini sang istri telah tiada, tepatnya 32 hari setelah Fidelis ditangkap petugas BNN dan meninggalkan kedua buah hatinya.

Berita ini ramai diperbincangkan—setidaknya menurut saya, bukan karena banyaknya ganja yang ditanam, atau perihal Fidelis yang notabene seorang PNS dan melanggar aturan hukum dengan menanam ganja. Tapi, lebih kepada pertanyaan: “dimana sisi humanis para penegak hukum?”, “dimana sikap ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ mereka?” Mungkin benar, hukum harus tetap berjalan, karena di Indonesia, ganja itu ilegal dan termasuk dalam narkotika golongan I. Tapi coba lihat, apakah Fidelis atau Yeni menggunakan ganja untuk bersenang-senang, merasakan sensasi yang ganja berikan pada diri mereka? Jawabannya tentu saja tidak.

Saat ini Fidelis masih berada di dalam bui, sedangkan Yeni telah meninggal dunia karena berhenti diberi pengobatan oleh suaminya. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab? Siapa yang harus mengurus kedua anaknya? Kakek? Nenek? Om? Tante? Atau, tetangga? Entahlah. Tapi saya harap, pemerintah dan mereka yang berkuasa akan hukum di negara ini, menyudahi saja kasus Fidelis ini. Tunjukkan rasa kemanusiaan kalian jika kalian memang manusia. Lagi pula dimana letak kesulitan meneliti khasiat ekstrak ganja? Saya yakin, terutama di jaman sekarang, alat-alatnya sudah memumpuni begitu pula dengan penelitinya.

Ya, semoga kasus ini cepat selesai dan Fidelis dibebaskan. Diharapkan pemerintah dan para penegak hukum memberi kesempatan bagi para peneliti untuk melihat, apakah benar ekstrak ganja mampu menyembuhkan berbagai penyakit atau tidak? Jika tidak ada khasiatnya, biarkan ia ditahan. Tapi jika benar mampu menyembuhkan, tutup kasusnya dan lepaskan Fidelis. Lakukan revisi pada pasal 8 UU narkotika tersebut.

Sedikit tambahan bagi yang belum mengetahui, Fidelis melanggar pasal 8 UU narkotika yang berisi, “Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.” Tapi lihat pasal sebelumnya, yaitu pasal 7 yang berbunyi, “Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Bagaimana? Silahkan anda nilai sendiri.

Friday, 19 August 2016

source: rollingstone.co.id

Pada bulan Mei 2016 silam, Rolling Stone Indonesia mengadakan sebuah acara bertajuk Ampera Ria Safari. Acara tersebut digelar di Rolling Stone Café, Jakarta Selatan, dalam rangka merayakan hari ulang tahunnya yang ke-11.

Acara yang dimulai pukul 13.00 itu, dimeriahkan oleh musisi-musisi Tanah Air yang berkualitas, seperti Scaller, The Adams, Seringai, Kelompok Penerbang Roket, The SIGIT, Isyana Sarasvati, dan dua DJ yang memainkan musik lawas pilihan; Irama Nusantara dan Diskopantera.

Waktu itu, band yang membuat gue penasaran adalah Scaller, karena gue cuma sering menontonnya di Youtube dan belum pernah menyaksikannya secara live. Tapi karena ada kendala dari pihak penjual tiket, jadi gue gak bisa menyaksikan Scaller dan baru bisa menikmati acara tersebut sehabis maghrib, yaitu saat KPR manggung. Itu juga akhirnya gue beli FDC di Rolling Stone Cafénya. Sebelumnya, gue cuma bisa menyaksikan acaranya dari luar. Kebetulan, dari luar gue bisa melihat siapa yang lagi manggung dan sedikitnya tau kayak gimana keseruan acaranya.

Ya, meskipun hitungannya gue terlambat, tapi secara keseluruhan gue menikmati acaranya. Apalagi rundown yang dibuat cukup keren menurut gue. Gimana nggak, trio band yang memainkan musik keras, berurutan di rundownnya. Setelah Seringai manggung, band selanjutnya ada KPR, lalu disusul oleh The SIGIT. Untungnya, ada jeda adzan maghrib setelah Seringai. Jadi para lelaki agak beringas di sana bisa beristirahat dulu sejenak. Lain halnya ya, dengan acara-acara seperti Hammersonic. Acara itu sepertinya memang diadakan untuk mereka-mereka yang udah beringas sejak lahir. Hehe.

Itu aja, sih, sedikit cerita tentang pengalaman gue menonton konser musik.

Kalau lo, ada gak, pengalaman seru atau yang gak akan lo lupakan selama menonton konser musik? :)

Tuesday, 9 August 2016


Mungkin sebagian besar dari lo yang membaca tulisan ini menggunakan social media bernama LINE. Dan sepertinya, gue gak perlu kasih tau lagi kegunaannya apa dan fitur apa aja yang diberikan oleh LINE. Karena selain lo bisa cari informasi itu di google, postingan ini juga bukan postingan review atau postingan yang memberikan tips dan trik menggunakan LINE.

Jadi gini, gue menggunakan LINE sekitar tahun 2012-2013. Dimana saat itu, orang-orang masih banyak yang menggunakan aplikasi BBM untuk chatting daripada LINE. Dan gue, merasakan perubahan yang terjadi sama LINE sampai hari ini. Salah satunya adalah, munculnya LINE@.

Setelah adanya LINE@, gue merasa agak risih saat melihat timeline LINE. Tapi di sisi lain, gue juga merasa dapat pengetahuan baru dan lumayan terhibur dengan beberapa akun LINE@ yang ada. Misalnya, ada akun Berani Beda, yang membahas soal musik. Tatank Galaw, akun humor yang tulisannya alay dan kadang ada sepatah-dua patah kata yang membuat gue ketawa. Ada juga Hidden Secret, yang kontennya membahas masalah politik.

Tapi di antara mereka semua, ada juga akun-akun konyol yang menurut gue (maaf) tidak ada manfaatnya. Sekali lagi, ini menurut gue ya.


1. Akun Quotes Galau

Gue gak tau, Adminnya ini cewek atau cowok. Yang jelas, semua kontennya berisi quotes-quotes galau ngehe yang menjijikkan banget kalau ternyata Adminnya adalah seorang laki-laki.
Gue juga gak tau, apakah di kehidupan nyata, sang Admin adalah orang yang mengisi kesehariannya dengan kegalauan, meratapi nasib, ngikutin trend, atau semua itu dia lakukan hanya sekedar untuk mengejar likes, yang berujung dengan uang?

Ya lo tau, kan, kalau quotes-quotes galau atau apapun yang berhubungan dengan cinta-cintaan, pasti banyak dicari sama orang. Terutama mereka yang masih remaja dan hidupnya dipenuhi oleh drama. Jadi, ya bisa aja akun-akun galau itu cuma mencari materi aja.

2. Akun Video yang Bukan Video

Dulu, akun ini sempat gue ikuti karena kontennya selalu berisi video-video lucu. Tapi belakangan ini, isi kontennya berubah 180 derajat dan tidak sesuai dengan namanya. Akun ini jadi tidak ada bedanya dengan akun-akun galau ngehe yang tersebar luas di luar sana. Udah video gak ada, "menakjubkan" juga nggak. Jadinya, ya nyampah doang.

3. Akun Fakir Like

Ini juga gue gak ngerti, sih. Akunnya semacam survey, tapi gak ada faedahnya gitu. "Like kalau kamu sayang ibu", "Like kalau kamu mau liburan ke tempat ini". Lebih parah lagi, dulu ada akun yang seperti ini, tapi secara gak langsung maksa banget buat dilike. Katanya sih, kalau gak ngelike, kita bisa masuk neraka, dibilang gak sayang ibu, pokoknya tingkat kemanusiaan kita bisa ketauan deh dari kita ngelike atau nggak. Hebat banget, ya?

4. Akun Golongan Darah

Ini nih yang sering banget muncul di timeline gue. Gue gak mau panjang lebar, deh, ngomongin akun ini. Cuma mau nanya aja, gimana caranya, lo bisa tau kepribadian lo atau seseorang dari golongan darahnya? Kalau lo adalah Admin atau pengikut setia dari akun ini, jelasin ke gue gimana caranya lo bisa tau.

Gue waktu sekolah belajar IPA, terutama Biologi. Tapi gue gak pernah diajarin kalau dari golongan darah, kita bisa tau kepribadian seseorang. Entah guru gue yang salah karena gak ngajarin, atau.... (isi sendiri).

5. Akun Pribadi Yang Doyan Like Status Sendiri (BONUS!)

Ini yang paling bikin gue kesel. Lo keliatan banget kalau lagi nyari like yang banyak sampe ratusan bahkan ribuan dengan ngelike status lo sendiri. Orang-orang kayak gini yang menurut gue gak punya kerjaan sama sekali. Misalnya, lo bikin status setahun yang lalu. Terus lo like and share status lo itu biar nongol lagi di timeline dan dengan harapan, yang belum ngelike bakal ngelike status purba lo itu. Biji kuda!

Gini ya, secara gak langsung, lo yang melakukan hal tersebut udah meresahkan banyak temen lo di luar sana. Beberapa temen lo juga pasti mikir, "Anjing, ini orang setiap hari ngelike status sendiri mulu. Pengen gue block, tapi temen." Akhirnya, lo masih bebas berkeliaran di luar sana.


Mungkin gue gak bisa menyalahkan semuanya ke akun-akun tolol di atas. Mereka yang ngelike dan membagikannya ke timeline juga patut disalahkan. Karena, mereka-mereka itulah yang sebenarnya membuat akun-akun pembodohan itu muncul di timeline gue. Kalau lo, atau kita, deh, mulai berhenti menyebarluaskan akun-akun seperti itu, gue rasa orang di balik akun itu juga akan pensiun secara perlahan. Kecuali yang nomor 5, ya. Itu sih emang keliatan banget kalau mereka fakir like.

Oke. Kira-kira itu aja sih yang mau gue sampaikan di tulisan kali ini. Kalau ada sesuatu yang mau lo sampaikan ke gue atau lo merasa tersindir, silahkan komen aja di bawah postingan ini. Justru gue lebih seneng kalau ada yang merasa tersindir. Hehe.

Pesen gue sih cuma satu: Anjing kalian semua yang haus akan like dan eksistensi!

Pageviews

bayupradhana. Powered by Blogger.

Followers

Popular Posts